sejarah nahdlatul wathan


Pendahuluan
Organisasi Nahdlatul Wathan disingkat NW adalah organisasi keagamaan islam (jama’iyah diniyah islamiyah) yang memiliki kegiatan utama (core activities) dalam bidang pendidikan, social dan dakwah islamiyah. Organisasi ini didirikan oleh TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tanggal 1 Maret 1953 bertepatan dengan15 Jumadil Akhir 1372 Hijriyah.
Akta pendirian organisasi NW dibuat dihadapan pemangku jabatan Sekretaris Daerah Lombok, Hendrik Alexander Malada merangkap sebagai Notaris di Mataram dengan Akta Notaris Nomor 48. Selanjutnya dalam rangka penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi NW, dihadapan Notaris pengganti Sie Ik Tiong di Jakarta dibuat akta Notaris Nomor 50 pada tanggal 25 Juli 1960 dengan Pengakuan dan Penetapan Menteri Kehakiman pada tanggal 17 Oktober 1962 No.J.A.5/105/5.
Pendirian organisasi NW dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan adanya suatu badan yang dapat berfungsi sebagai koordinator, pembimbing dan pengayom dari kegiatan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang telah berkembang pesat dengan banyaknya cabang-cabang kedua madrasah itu tersebar diberbagai wilayah dan desa di Pulau Lombok. Kedua madrasah itu, NWDI dan NBDI kini telah diintegrasikan menjadi Pondok Pesantren Darun Nahdlatain NW (PPDNW) Pancor yang menjadi induk madrasah NW yang tersebar diwilayah nusantara.
NWDI adalah lembaga pendidikan agama bagi kaum pria yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1936 di Pancor — Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Madrasah NWDI secara resmi dibuka pada tanggal 22 Agustus 1937 bertepatan dengan tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 Hijriah. Sedangkan NBDI adalah lembaga pendidikan agama bagi kaum perempuan yang didirikan pada tanggal 21 April 1943 bertepatan dengan 15 Rabiul Akhir 1362 Hijriah.
Perjuangan NW yang dimulai sejak kelahiran Madrasah NWDI sudah mencapai 69 tahun lamanya, dari tahun ke tahun terus mengalami dinamika dan perubahan. Adapun perubahan penting yang dialami organisasi NW adalah berkembangnya peran dan fungsi NW sebagai organisasi kemasyarakatan yang menjalankan aktivitas dalam bidang penguatan masyarakat sipil (civil society). Oleh karena itu NW sekarang dikenal sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.
Azas,AqidahdanTujuan
Nahdlatul Wathan sebagai organisasi kemasyarakatan melaksanakan segala amal usaha dan kegiatannya sesuai dengan azas organisasi. Sedangkan sebagai organisasi keagamaan islam, Nahdlatul Wathan menganut dan menerapkan syariat islam sesuai aqidahnya.
Azas dan aqidah organisasi merupakan landasan perjuangan organisasi dalam mencapai tujuannya. Pasal 2 Anggaran Dasar Nahdlatul Wathan menetapkan :
Azas       : Nahdlatul Wathan berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Aqidah : Nahdlatul Wathan beraqidah Islam Ahlusunnah Wal Jamaah ala Mazhabil Imam Syafii RA.
Tujuan    : Lillai Kalimatillah Waizzil Islam Wal Muslimin dalam rangka mencapai keselamatan, dan kebahagiaan, hidup di dunia, dan akhirat.
PotensidanSasaranPembinaan
Dalam lingkungan Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Nusa Tenggara Barat potensi yang ada merupakan sasaran pembinaan yang akan dilaksanakan melalui serangkaian program dan rencana kerja.
Dalam bidang keorganisasian, potensi yang dimiliki oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Nusa Tenggara Barat adalah :
1.     PD NW Kota Mataram beserta 3 cabang.
2.     PD NW Lombok Barat beserta 15 cabang.
3.     PD NW Lombok Tengah beserta 12 cabang.
4.     PD NW Lombok Timur beserta 20 cabang.
5.     PDNWSumbawa.
6.     PDNWDompu.
7.     PDNWBima.
Didalam tubuh organisasi NW terdapat badan-badan otonom yang seasas. Adapun Badan otonom yang ada pada Tingkat Wilayah di Nusa Tenggara Barat adalah :
1.     Pimpinan Wilayah Muslimat NW;
2.     Pimpinan Wilayah Pemuda NW;
3.     Koordinator Wilayah HIMMAH NW;
4.     Pimpinan Wilayah IPNW.
Dalam bidang pendidikan Potensi Pesantren/Madrasah Nahdlatul Wathan di Nusa Tenggara Barat mencapai 29 buah pada Tingkat TK/Raudatul Atfal atau sekitar 8,5 % dari 340 buah RA di NTB. Selanjutnya pada Tingkat Madrasah Ibtidaiyah mencapai 299 buah atau sekitar 58,5 % dari seluruh Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) yang ada di NTB sebanyak 511 buah. Untuk Tingkat Tsanawiyah terdapat 202 buah madrasah atau 46,1 % dari seluruh Madrasah Tsanawiyah Swasta di NTB sekitar 438 buah. Sedangkan pada Tingkat Madrasah Aliyah, terdapat 80 buah madrasah atau sekitar 41,6 % dari jumlah Madrasah Aliyah Swasta sekitar 192 Madrasah Aliyah Swasta di NTB. Adapun jumlah Pondok Pesantren NW mencapai 66 buah atau sekitar 27,8 persen dari jumlah Pondok Pesantren di NTB sebanyak 237 buah.
Secara keseluruhan jumlah pesantren/madrasah NW di NTB mencapai sekitar 676 buah atau sekitar 39,3 % dari 1718 madrasah. Jumlah tersebut tergolong cukup besar, lebih-lebih basis dukungan organisasi NW di Nusa Tenggara Barat khususnya di Pulau Lombok sangat luas dan merata di setiap wilayah.


Kebijakan Umum Pengurus Wilayah
1.     Membangun organisasi yang solid, kompak dan bersatu. yang akan diwujudkan melalui pelaksanaan konsolidasi organisasi, konsolidasi wawasan dan konsolidasi personil
2.     Meningkatkan kualitas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, sosial dan dakwah Nahdlatul Wathan.
3.     Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Ekonomi Nahdlatul Wathan.
4.     Membangun jaringan kerjasama (network) untuk kemajuan organisasi Nahdlatul Wathan serta menggalang dana perjuangan organisasi untuk menjamin pelaksanaan program secara berkelanjutan.
5.     Meningkatkan kesadaran hukum , posisi tawar (bargaining position), partisipasi dan kontribusi warga Nahdlatul Wathan dalam Pembangunan Nasional dan Daerah.
Saya kira inilah beberapa penyakit yang menjangkiti warga NW terutama orang-orang yang berada di pusat pemerintahan NW. Karena memang di situlah kebanyakan potensi-potensi “mengaku diri”, “unjuk diri”, dan sejenisnya terjadi, yang mungkin disebabkan dengan adanya asumsi bahwa di pusat (Pancor) banyak posisi-posisi strategis, banyak lahan basah yang terinventarisir. Maka Saya kembali bertanya, apakah memang benar NW “kaya”? untuk membuat kita saling tidak suka demi mendapat gelar “pahlawan” yang patut diberikan penghargaan.
Sebagai orang yang pengetahuan NW-nya tidak terlalu banyak, Saya ingin mengatakan NW adalah organisasi kemasyarakatan yang bukan tempat menumpuknya harta dan bukan tempat berjejernya kursi posisi maupun kekuasaan. Kalau Saya tidak khilaf, Tuan Guru Bajang (TGKH. Muhammad Zainul Majdi, M.A.) pernah mengatakan dalam sebuah pengajiannya, “Jangan NW dijadikan tempat cari kursi/ jabatan. Kalau Anda mau kursi, silahkan ambil kursi di madrasah, masih banyak yang belum terpakai…”, kira-kira seperti itu ungkapan beliau. Tidakkah kalimat sederhana dan gampang ini membuat kita memahami apa sebenarnya keinginan hakiki NW itu?. Begitu gampangnya kalimat tersebut, tanpa berpikir lama-lama kita sudah jelas paham maksudnya. Saya meyakini sesungguhnya kita semua mengerti dengan kalimat itu, tetapi tidak mau melakukan sesuatu untuk menjawabnya. “Mengerti belum tentu melaksanakan”, demikian ungkap seorang organisator. Jangan-jangan kita kena dengan kalimat tersebut. Tapi, jangan-jangan keyakinan Saya salah, padahal tidak semua kita paham tentang kalimat tuan guru. Orang bilang, “tidak paham adalah penghianatan” dalam sebuah organisasi.
Dengan melihat beberapa persoalan di atas, sangat boleh jadi selama ini NW berada di tengah konflik warganya. Tapi di sini Saya tidak mau terlalu banyak bicara konflik-konflik, karena memang kita sudah mafhum.
Yang paling penting untuk NW sekarang ialah bagaimana peranan kepemimpinan termasuk jajarannya terhadap masalah yang terjadi. Hicks dan Gullett ahli organisasi mengatakan, bahwa salah satu peranan kepemimpinan terhadap konflik adalah menciptakan rasa aman (providing security). Dengan adanya rasa aman, organisasi atau bawahan dalam melaksanakan tugas-tugasnya merasa tidak terganggu, bebas dari segala perasaan gelisah, kekhawatiran, bahkan merasa memperoleh jaminan keamanan dari pimipnan.
Dengan demikian organisasi dapat berjalan dengan aman, bebas dari situasi konflik. Berarti manusia dengan segala perilakunya, struktur organisasi, dan proses komunikasi dapat berfungsi sesuai dengan peranannya masing-masing.
Oleh karena itu, dalam kaitan konflik yang terjadi, setiap pemimpin harus menempatkan dirinya untuk bertanggungjawab dan berperilaku menyelesaikan konflik tersebut. Dengan kata lain, apabila terjadi suatu konflik dalam kehidupan organisasi, bagaimana peranan kepemimpinan terhadap konflik itu sendiri, ada lima pola dasar penyelesaian yang dapat dilakukan (Wahjosumidjo, 1994), yakni:
1.     Pada dasarnya konflik itu diselesaikan dengan menekan konflik itu sendiri (suppression). Pola ini didasarkan atas berbagai pemikiran:
Konflik dipandang sebagai sesuatu yang tidak boleh terjadi, oleh karena itu setiap konflik harus selalu dikendalikan dengan berbagai tindakan dan tekanan; Untuk menyelesaikan suatu konflik, harus dipergunakan wewenang dan perlu adanya loyalitas bawahan; Penyelesaian konflik yang paling baik ialah dengan paksaan dan tekanan; Hasil penyelesaian suatu konflik adalah the boss wins, the subordinates loses.
2.     Konflik harus diselesaikan dengan cara halus atau lunak (smoothing). Penyelesaian konflik secara lunak, didasarkan atas pemikiran:
Konflik dipandang sebagai suatu hal yang positif, dinamika kerjasama;
Dinamika tersebut dapat dilakukan melalui suatu diskusi mengenai konflik itu; Terhadap konflik yang timbul para bawahan diberikan kesempatan untuk menentukan sikap dan pendapat; Berbagai perasaan negatif yang timbul tidak perlu ditekan.
3.     Apabila timbul suatu konflik, pemimpin tidak perlu bertanggungjawab atau pemimpin menghindarkan tanggungjawab.
4.     Dalam hal ini konflik perlu diselesaikan melalui kompromi. Terhadap konflik yang timbul, pihak-pihak yang terlibat dapat saling mengemukakan pendapat. Akhirnya tidak ada pihak yang menang dan kalah.
5.     Dasar penyelesaian konflik adalah konfrontasi.Artinya, pihak-pihak yang saling bertentangan dihadapkan satu sama lain. Masing-masing pihak, saling mengadakan analisis dan evaluasi, sehingga akhirnya bisa diperoleh titik temu atau kesepakatan.
Berorientasi pada serangkaian peranan kepemimpinan dan memperhatikan lima macam pola dasar penyelesaian konflik dapat ditarik kesimpulan, bahwa:
1.     Setiap pemimpin mempunyai serangkaian tanggungjawab terhadap organisasi yang dipimpinnya, satu diantaranya ialah terciptanya suasana atau rasa aman bagi para bawahannya;
2.     Agar suasana dan rasa aman tersebut dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya, maka apabila terjadi suatu konflik baik konflik yang bersifat antarpersonal, kelompok, maupun antar organisasi, menjadi kewajiban pemimpin untuk menyelesaikan konflik tersebut;
3.     Bagaimana seorang pemimpin berperilaku terhadap konflik tersebut, ada lima macam pola dasar yang dapat dipergunakan yaitu: dengan tekanan, dengan cara halus, menghindarkan tanggungjawab dari konflik yang timbul, dengan kompromi, dan dengan cara konfrontasi;
4.     Di antara lima macam pola dasar tersebut, cara yang paling efektif untuk menyelesaikan suatu konflik, ialah cara yang kelima yaitu konfrontasi atau menghadapkan pihak-pihak yang bertentangan tersebut.
 Dari beberapa uraian di atas, sesungguhnya Saya menginginkan sebuah perubahan sikap dari pihak yang berwenang dalam hal ini mungkin pada skup yang lebih besar adalah PBNW dan jajarannya. Saya tidak menyangsikan kemampuan para pengurus yang ada, namun sedikit khawatir seperti yang sudah Saya katakan sebelumnya, jangan-jangan konflik-konflik itu dibiarkan saja berkembang tanpa adanya sebuah konsentrasi khusus untuk menyelesaikannya (agenda yang tertunda).
Ironis sekali, ketika kita menginginkan perdamaian dalam sebuah pergulatan besar yang telah mem-porakporanda-kan NW sampai itu dapat kita raih, namun kenapa sekarang kita sendiri mengkoyak-koyak perdamaian itu? Jangan-jangan di NW telah terjadi “Gerhana Bulan” yang berkepanjangan.
Kiranya Puisi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang mampu menjawab, ada apa dalam “Gerhana Bulan” tersebut:
Malam gelap gulita, Matahari berada pada satu garis dengan Bumi dan Rembulan. Cahaya Matahari yang memancar ke Rembulan tidak sampai ke permukaan Rembulan karena ditutupi oleh Bumi, sehingga Rembulan tidak bisa memantulkan cahaya Matahari.
Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya Matahari adalah Rahmat nilai kepada Bumi yang semestinya dipantulakan oleh Rembulan.
Rembulan adalah para kekasih Allah, para Nabi, para Ulama, para Cerdik-cendikia, para pujangga, dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya ke Bumi.
Karena Bumi menutupi cahaya Matahari, maka malam gelap gulita dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi.
Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas. Orang menyangka kepala adalah kaki.
Orang menyangka utara adalah selatan.
 
Orang bertabrakan satu sama lain.
Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain.
Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.
 Kita memang sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum.
 Yang Kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan melainkan asyiknya perpecahan.
Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi menggelegaknya kecurigaan.
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah.
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk meyelengarakan perang saudara.
Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati.
Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi Bumi yang mempergelap cahaya Matahari sehingga Bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya, atau kita befungsi menjadi Rembulan.
Kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat agar kita bisa dapatkan sinar Matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke Bumi…
Barangkali sepenggal puisi di atas sekedar jadi bacaan tambahan untuk melengkapi alenia berikutnya. Oya, ada lagi nih…
Kalau yang sunyi engkau anggap tiada
Maka bersiaplah terbangun mendadak dari tidurmu oleh ledakannya
Kalau yang diam engkau remehkan
Bikinlah perahu agar di dalam banjir nanti engkau tidak tenggelam
Kalau yang tidak terlihat oleh pandanganmu engkau tiadakan
Bersiaplah jatuh tertabrak olehnya
Dan kalau yang kecil engkau sepelekan bersiaplah menikmati kekerdilanmu digenggaman kebesaran-Nya
Kalau memang yang engkau pilih bukan kearifan untuk berbagi
Melainkan nafsu untuk menang sendiri maka terimalah keancuran bagi yang kala, dan terimalah kehinaan bagi yang menang
Kalau memang yang mengendalikanmu adalah rasa senang dn tidak senang, dan bukannya pandangn yang jujur terhadap kebenaran, maka buanglah mereka yang engkau benci dan bersiplah engku senduiri akan memasuki jurang
Kalau memang yang bisa engkau pahami hanyalah kemauan, kepentingan dan nafsumu sendiri.
Dan bukannya kerendahan hati untuk merundingkan titik temu
kebersamaan, maka siapkan kekebalan dari benturan-benturan
dan luka, untuk kemudian orang lain menggali tanah untuk menguburmu
Yang paling akhir dari tulisan ini, Saya ingin melontarkan satu pertanyaan sederhana: Pentingkah Bedah “Wasiat” diprogramkan?
Demikian sedikit ungkapan prihatin Saya melihat kondisi NW tercinta sekarang ini, semoga NW tetap jaya sepanjang masa. Amien…
Wallohulmuaffiqu Walhadi Ila Sabilirrosyad…
“Percikan-percikan”
Kenapa Tak Kau Tulis Surat Cinta Kepada-Ku
Ketika engkau menyelami lautan dan menjumpai keindahan ayat-ayat-Ku
yang tak akan pernah sungguh-sungguh engkau pahami,
kenapakah sesudah pulang berenang kembali ke pantai
tidak lantas engkau tuliskan surat cinta kepada-Ku
untuk memperbincangkan rahasia itu?
Menemukan Kemenangan dalam Kekalahan
Kita hanya mengenal nilai secara monoton: bahwa kemenangan adalah
memasukkan gol dan kekalahan adalah kemasukan gol.
Bahwa kebahagiaan adalah mendapatkan untung
dan kepedihan adalah ditimpa kerugian.
Padahal hidup adalah kata kerja. Hidup adalah perjalanan. Gerak.
Kalau suatu hari pencuri menggasak perabot-perabot rumah tangga,
daripada habis energi untuk mengutuk,
mending menemukan kemenangan dalam kehilangan.
Karena sesudahnya kita pasti memperoleh ilmu tentang keterbatasan
dan teknologi kehati-hatian sosial. Atau kemenangan kita bertambah
karena harta yang diambil pencuri itu semoga menjadi
pembersih dosa kita di hadapan Allah.
Lebih mahal mana perabot dibanding
ilmu ditambah ampunan-Nya?
Tak Ikhlas Terhadap Adamu
Seandainya memiliki keberanian, alat dan cara,
bisa jadi dulu-dulu ia sudah membunuhmu,
entah dengan pistol, pisau, atau mencari dukun untuk menyantetmu.
Sebab yang ia tidak ikhlas bukan hanya terhadap reputasimu,
suksesmu, kekayaan dan kegembiraan hidupmu.
Bahkan sesungguhnya ia tidak ikhlas bahwa engkau ada di dunia ini.

 

Muhammad mmmm….sy kira tulisan akhi cukup empati trhdp masalah dan bukannya ke solusi shg terkesan mengeluhkan masalah yg ada.
klo saja kita melihat bagaimana pohon tumbuh dengan suburnya, itu karena sebab kotoran-kotoran hewan, bukan dengan air susu campur madu. mari kita melihat masalah sebagai anugerah dan bukannya sebagai musibah maka akan tumbuh jiwa-jiwa positif. hanya dg jiwa positiflah masalah terasa indah, jk mslah terasa indah berarti kita menemukan satu rahasia besar yaitu rahasia hidup. pd masa anak2 utk bisa berjalan kita sering mengalami jatuh bangun hingga pd akhirnya berhasil berjalan dg sempurna bahkan kita bs lari dg kencangnya. masalah adalh jalan menuju pendewasaan. berbahagialah krena kita sedang mengalami pertumbuhan yg sgt cepat.
lebih baik kita diskusikan bgmn caranya agr umat islam lebih unggul dari umat2 lainnya.
       Allah SWT. sendiri berfirman: jadilah sebaik2 umat yg             pernh ada dimuka bumi ini, mari kita buktikan….
M .saudaraku yg terhormat,,

 

a sepakat dgn antum smw bhw a yakin keinginan kita adalah sama. a usul kit
a buat kelompok perdamaian ato apalah nama yg d sepakati n kita berAKSIi dgn kegiatan-kegiatan sebagai perekat.kita NW tp bukan pancor n bukan pula anjani.kita adalah NW yang haus akan kebenaran krn kebenaran it satu tdk bisa 2,3,4,5. semisal kegiatan kita:bedah tuntas wasiat almagpurlah, kajian titik temu NW kita dgn seminar bersama, kajian mahasiswa NW, pertemukan kedua belah pihak. saudaraku!!!a memang org kecil, n antum mungkin org kecil n besar namun jika kita bersatu dlm 1 payung kebenaran,insyalh jika murni tujuan kita maka kita diberikan kekuatan olehNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: